Remaja Dalam Jerat Narkoba
Remaja, fase kehidupan manusia yang menjadi masa transisi, penghubung antara masa kanak-kanak dan dewasa. Di masa ini, umumnya remaja punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Satu sisi hal tersebut sangat baik, namun di sisi yang lain bisa sangat mengkhawatirkan apabila remaja terjerumus dalam hal negatif atau merugikan, seperti terjerat narkoba.
Dampak buruk narkoba tidak perlu diragukan lagi. Namun, kasus penyalahgunaan narkoba pada remaja justru semakin meningkat tiap tahunnya. Hal ini sangat disayangkan karena narkoba tak hanya mengganggu prestasi akademik, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan.
Bukti statistik menunjukkan anak mulai kontak pertama dengan narkoba umumnya mulai kelas 6 SD hingga 8 SMP (usia 12-14 tahun). Di Indonesia, remaja (pelajar) sangat rentan masuk ke dalam jerat peredaran narkoba. Mirisnya tidak hanya menjadi pengguna, para remaja bahkan sudah menjadi pengedar barang haram ini.
Narkoba Perusak Remaja
Narkoba bekerja merusak sistem saraf mulai dari level ringan hingga permanen. Korban narkoba biasanya akan mengalami sakau, kebutaan, sampai menyebabkan kematian. Narkoba juga bisa memengaruhi kerja otak menjadikan zat tersebut mampu mengubah suasana baik perasaan, kesadaran, cara berpikir, hingga perilaku para penggunanya. Kerusakan juga terjadi pada gangguan saraf yang ditimbulkan dari narkoba. Kerusakan tersebut berupa gangguan saraf sensoris, motorik, vegetatif, dan otonom. Jika gangguan saraf itu terjadi pada remaja, tentu masa depannya akan terancam. Selain itu, tatanan kehidupan yang mengelu-elukan kebebasan bertingkah laku akibat dari sekularisme yang memisahkan kehidupan dari agama.
Ada banyak faktor tertentu yang dapat memengaruhi kemungkinan penyalahgunaan atau kecanduan narkoba pada remaja. Apa sajakah faktor itu?
Faktor lingkungan
Faktor lingkungan dari teman sebaya merupakan faktor risiko tertinggi penyalahgunaan narkoba pada remaja. “Ikut teman” atau “agar diterima di pergaulan” dapat memicu remaja untuk mulai mencoba narkoba hingga menjadi kecanduan.
Faktor psikologis
Remaja yang mengalami stres berat, gangguan perilaku, atau masalah psikologis, seperti depresi dan gangguan cemas, lebih berisiko mengalami kecanduan narkoba. Bagi mereka, mengonsumsi narkoba bisa menjadi salah satu cara atau bahkan solusi untuk mengatasi berbagai masalah yang sedang mereka alami.
Faktor genetik
Faktor keturunan juga menjadi salah satu faktor risiko penyalahgunaan narkoba pada remaja. Seorang remaja berisiko besar menjadi pecandu narkoba jika ia memiliki orang tua atau saudara kandung yang juga mengalami kecanduan narkoba atau alkohol.
Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu juga bisa membuat remaja penasaran untuk mencoba narkoba hingga akhirnya menjadi seorang pecandu. Penelitian menunjukkan bahwa mencoba narkoba pada usia muda akan meningkatkan risiko menjadi pecandu di kemudian hari.
Penting untuk memahami berbagai faktor risiko tersebut, sehingga dapat dilakukan upaya-upaya guna mencegah penyalahgunaan narkoba pada remaja.
Jika anak Anda menjadi salah satu korban penyalahgunaan narkoba pada remaja, Anda dapat membawanya ke psikiater untuk menjalani konsultasi dan pemeriksaan psikologis.
Setelah melakukan pemeriksaan, psikiater mungkin akan menyarankan anak untuk menjalani sesi psikoterapi, rehabilitas narkoba dan memberikan pengobatan untuk menangani kondisi anak Anda yang mengalami ketergantungan narkoba.
Penulis by: @Rizal_2025
