Refleksi 78 Tahun HMI; Revitalisasi Tradisi Kader HMI Sebagai Insan Intelektual

Oleh: Afrizal, S.E.,M.M. Penulis adalah mantan Pengurus HMI Komisariat Universitas Terbuka, Pengurus HMI Cabang Jakarta Pusat – Utara, Pengurus KAHMI Majelis Rayon Universtitas Terbuka Jakarta.
Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi kader yang berlatar belakang Mahasiswa, Berarti dibalik pemaknaan tersebut memiliki konsentrasi beban Intelektualitas pada keder HMI itu sendiri, di setiap derap aktivitas, segala tindakan organisasi akan selalu memiliki kesesuaian dengan plat form perkaderan, untuk terus membentuk kader HMI sesuai tujuan.
Di era kontemporer saat ini, revitalisasi tradisi kader HMI dalam penguatan intelektual harus terus di lakukan untuk menjawab tantangan pengembangan sumber daya organisasi juga sebagai ikhtiar untuk menjawab tantangan sosio cultural yang terus berkembang di republik ini. Sebagai organisasi mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam usahanya untuk mewujudkan pola perkaderan dalam membentuk profil kader yakni insan intelektual muslim, profesional harus konsekuen.
Oleh karena itu, seluruh aktivitas organisasi mesti menjadi media bagi pengembangan potensi dalam rangka mencapai tujuan HMI. Yakni “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Yang bernafaskan Islam dan Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur Yang Diridhoi Allah Subhanallah Wata’ala”. (lihat mission HMI pasal 4 AD HMI).
Menjadi kewajaran sejarah bahwa HMI ingin menampilkan kader-kader terbaik yang memiliki keseimbangan antara iman sebagai dasar berpijak dalam melakukan seluruh aktifitasnya, sementara ilmu pengetahuan atau profesionalitas akademisnya sebagai sarana penerjemahan nilai-nilai ajaran islam ke dalam kehidupan nyata dan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (lihat usaha HMI).
HMI adalah organisasi besar, organisasi tertua di Indonesia (5 Februari 1947), kaya pengalaman, pencetak para raksasa intelektual, banyak anggota dan alumni dan sebagainya. Namun keadaan itu tidak membuat kader HMI pasif dan hanya membanggakan, justeru harus selalu melakukan pemguatan-penguatan keilmuan secara akademis untuk memposisikan kembali kader HMI yang benarnya
Tradisi intelektual dan akademik tak terpisahkan dari kehidupan di lingkup kader HMI Istilah intelektual biasanya ditunjukkan kepada orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Merujuk pada istilah modern ‘intelektual’ adalah mereka yang amat terlibat dalam ide-ide dan buku-buku
Kader HMI adalah masyarakat dan aktifis ilmiah yang beraktifitas di lingkungan ilmiah, berpikir ilmiah dan sekaligus kaum Intelektual dan akademis. Kaum Intelektual (Intellectual free thinkers) adalah kaum “pemikir yang tercerahkan”. Lingkup Organisasi ilmiah, Intelektual dan akademis adalah adalah bagian yang tak terpisahkan. Seorang akademis menemukan kenyataan, sedangkan seorang intelektual menemukan kebenaran. Ilmuwan menampilkan fakta sebagaimana adanya. Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya, Intelektual harus melibatkan diri pada ideologi.
Sejarah sudah mencatat bahwa peradaban dibentuk hanya oleh kaum intelektual. Seorang intelektual bukan hanya membaca, menulis dan berdiskusi, akan tetapi mampu memberikan konsep ideal atas permasalahan-permasalahan yang ada untuk kemasalatan umat. Organisasi HMI merupakan ladang tempat lahirnya kader-kader intelektual. Sehingga disinilah nilai-nilai positif seperti jujur, cerdas, peduli, tangguh, tanggung jawab, religius dan nilai positif lainnya bisa ditanamkan, terinternalisasi, dan menjadi sebuah budaya dalam upaya membangun tradisi intelektual.
Atas dasar itulah, Tradisi intelektual dan akademik harus tercipta dan berjalan di Organiasi HMI di Indonesia untuk melakukan perubahan dan perbaikan yang mengarah kepada terjadinya peningkatan kualitas kader. Baik secara kualitas intelektual, ataupun dari segi karakter kader HMI dan kualitas pengkaderan yang dihasilkannya.